MEMBER LOGIN
PROFIL SAIFUL BAHRI
Saiful Bahri: Hidupnya Diserahkan untuk Musik
Syaiful bahri, 52, komponis, meninggal dunia. memimpin orkes studio jakarta, direktur musik pada perusahaan film negara malaysia. ia sedang menggarap ilustrasi musik film wulan di sarang penculik. (pt)"HEI, pensil, pensil! Kertas, mana kertas!", tiba-tiba dia berteriak. Dan berlarianlah beberapa orang anaknya termasuk isterinya pula, memberi apa yang dia perlukan. Sebuah aransemen lagu pun, lahirlah. Itulah Syaiful lahri, asal Payakumbuh yang lahir pada tanggl 19 September, 1924. Biasanya begitu kertas dan pensil di tangannya, beberapa hari dia bertahan untuk tidak tidur. Tahun-tahun 50-an banyak lagunya yang lahir ketika ia berada di kakus atau kamar mandi.
Minggu malam 5 Desember lalu, Syaiful Bahri meninggal. Di Tokyo, ketika dia tengah menyelesaikan ilustrasi musik untuk film Wulan di Sarang penculik yang tinggal 10, lagi rampung. Kabarnya, tahun lalu seorang dokter sudah memperingatkan bahwa jantungnya tidak sempurna lagi kerjanya. "Tapi dia tetap bertahan", ujar Masito Sitorus yang kini jadi pembantu direksi perusahaan yang membuat film tersebut. "Dan saya bangga, ia kembali jadi karyawan film", ujar Soemardjono, ketua Karyawan Film dan Televisi dengan suara tersendat, "ia meninggal ketika sedang melakukan kerja itu. Saya. anggap dia pahlawan film'': Tanggal 8 Desember lalu, Syaiful Bahri dikuburkan di Tanah Kusir, Kebayoran Lama, Jakarta.
Anak INS Kayutanam ini sudah mulai kelihatan bakat musiknya ketika dia masih duduk di Mulo. Di sekolah tersebut dia membentuk sebuah ersemble. Guru musiknya: Mohamat Syafei. Seperti jamaknya orang Sumatera Barat, almarhum kemudian merantau ke Jakarta. Tahun 1950, almarhum memimpin Orkes Studio Jakarta, yang sebelumnya dipegang oleh Yos Cleber, Sutedjo dan Ismail Marzuki. Sepuluh tahun lamanya dia memimpin OSD tersebut. Tahun 1960, di bawah pimpinan Soemadi yang waktu itu masih jadi komentator ekonomi RRI (kini Dirjen Radio, Televisi dan Film) mengadakan perjalanan muhibah ke Malaysia. Rombongan launnya adalah: Mochtar Embut, Titiek Puspa, Sayekti, Bing Slamet, Sam Saimun serta beberapa musikus dan artis lainnya .
Bekerja sebentar sebagai pengarah musik di Hotel Indonesia, Syaiful Bahri kemudian hijrah ke Malaysia, dua minggu sebelum Indonesia mengadakan "Ganyang Malaysia". "Yaah, yang sudah, sudahlah", kata Iskandar, komponis, yang terakhir berjumpa dengan almarhum 17 Agustus tahun ini. Bersama Ismail Marzuki, Iskandar dan Syaiful membentuk trio dari tahun 1950 - 1961. "Waktu itu, Pemerintah Malaysia memintanya untuk mengembangkan seni musik di sana", tutur Soemadi. Jabatan terakhir yang dipegangnya: Direktur Musik pada Perusahaan Film Negara Malaysia.
Tahun lalu, dia kembali ke Indonesia dengan dijemput oleh Turino Junadi. "Pertama kali dia kembali kemari, RRI lah yang pertama yang dikunjungi", ujar Binsar Sitompul. Tambahnya: "Kepada saya dia mengajarkan bagaimana latihan olahraga untuk orang di atas 50 tahun. Dia bahkan memperlihatkan tubuhnya yang segar". "Almarhum orang yang gemar berkelakar dan selalu ada saja banyolannya", ujar Iskandar.
Selain musik, melukis juga digemarinya. Sempat dia belajar melukis dengan Wakidi. Tapi dunia musik lebih menonjol. Lagu-lagu seperti Dewi Manja, Tiga Dara, Fajar Harapan, Surat Tak Bernama, Kisah di Jalan Lembang dan puluhan lainnya adalah lagu ciptaannya. Karya-karya Syaiful yang baik menurut Iskandar: Impian Waktu (1951), Kerangan Masa (1953) dan Semalam di Malaysia (1960). Bersama Iskandar, mereka juga mencipta Kasih di Ambang Pintu.
Tidak kurang dari 35 ilustrasi musik film telah dibuatnya untuk Perfini saja. Belum lagi kalau dia bekerja untuk Persari, Golden Arrow, Bintang Surabaya, dan lainnya. Syaiful Bahri adalan ayah dari 11 orang anak dari isterinya yang pertama R. Suratmi, perempuan Bogor dan ayah dari 4 anak dari isterinya yang kedua, Siti Nuraini, perempuan Malaysia. Kedua orangtuanya, Ilyas Datuk Tunggak Besar masih segar bugar dan turut mengantar anaknya yang jadi pelopor musik Melayu modern ke tempat peristirahatannya yang terakhir. "Tahun 60 saya kehilangan seorang teman", kata Soemardjono untuk melepas almarhum, "dan kini dia meninggalkan saya untuk kedua kalinya dan tak mungkin kembali . . . ". [jejakmusik]
Tempo Edisi. 42/IIIIII/18 - 24 Desember 1976