Kicau "Si Kepodang" yang Tidak Tereksplorasi

Kualitas suaranya sudah tidak diragukan lagi, penyanyi era 70-an bernama Grace Simon memang dilahirkan untuk dunia tarik suara. Bakatnya lantas melejit setelah dia berhasil membawakan lagu "Bing" karya Titiek Puspa dalam Festival Penyanyi Pop DKI Jakarta tahun 1975. Tidak tanggung-tanggung, bagusnya kualitas suara Grace Simon juga mengalahkan sederet penyanyi lain yang juga memiliki kualitas suara yang baik, seperti Hetty Koes Endang, Margie Segers, Rafika Duri, Diah Iskandar dan Eddy Silitonga. Banyak yang bilang suara wanita kelahiran Semarang 5 April 1953 ini, mirip dengan suara "Burung Kepodang" yang sedang berkicau.
Sepanjang karirnya di dunia tarik suara, Grace Simon telah melahirkan lebih dari 30 Album, diluar album kompilasi. Sejumlah festival juga sudah dicobanya, mulai dari Jakarta hingga festival lagu ASEAN di Bangkok tahun 1982. Selain menyanyi, Grace Simon juga pandai berakting. Lebih dari sepuluh film nasional sudah dijajalnya, diantaranya film "Mereka Kembali" yang disutradarai Nawi Ismail tahun 1972, "Benyamin Koboi Ngungsi" tahun 1975, "Impian Perawan" tahun 1976, dan lainnya.
Album ke-20 Grace Simon bertitel "Pelarian" bisa dibilang salah satu album yang kurang laris. Salah satu penyebabnya karena mayoritas lagu yang disodorkan tidak mampu mengekplorasi kemampuan (skill) yang dimiliki Grace Simon. Makanya, banyak tembang yang terdengar biasa-biasa saja, dan tidak sedikit lantunan suara merdu dan berkualitas Grace tidak terdengar menonjol.
Menurut penulis, hanya satu lagu karya Grace Simon sendiri yang sukses, yakni yang berjudul “Lihat Air Mata”. Dilagu ini, suara Grace Simon terdengar sangat bening dan nyaris tanpa distorsi. Lagu juga sangat easy listening dan mudah diingat. Intonasi dari nada-nada rendah hingga tinggi sukses dibawakan penyanyi yang kini bermukim di Bali. Soal penghayatan lagu jangan ditanya, Grace yang bermain disejumlah film nasional sangat paham dengan ini.
Lagu yang menjadi judul album ini, “Pelarian” karya Titik Hamzah malah terdengar biasa saja. Permainan piano yang menjadi pengantar lagu dibawakan dengan teknik standar. Lagu yang dibawakan Grace dengan nada-nada rendah ini tidak menjadi key point dalam mengekplorasi kemampuan Grace yang baik. Skill bernyanyi Grace tenggelam dalam lagu ini. Hal ini ternyata terjadi pada beberapa lagu dalam album ini, seperti “Pasungan”, “Nyanyian Petani”, “Serenade”, hingga “Cintamu-Cintaku”
Beberapa lagu Grace menggambarkan realita, misalkan yang berjudul “Pasungan”. Ini bukan berarti kiasan, namun memang penggambaran orang yang dipasung. Lagu karta Yusuf Antonius ini merupakan rekaman fenomena sosial, dimana ada beberapa orang yang dipasung karena sudah dianggap tidak “berguna” lagi. Alkisah seorang anak manusia yang menderita penyakit lemah ingatan/dan selalu mengganggu penduduk disekitarnya/Jatuhlah dia didalam pasungan. Intonasi dan tema lagu rohani juga terekam dalam lagu ini, misalkan dalam lagu “Lembayung di Senja” karya B. Hariadi dan "Nyanyian Petani" karya Bambang Ade. Bentuk nada yang terpola dalam intonasi lambat diperkuat dengan syair yang sangat religius mendominasi dalam dua lagu ini.
Meski diperkuat oleh musisi rock, gitaris GodBless, Ian Antono, Album ini tidak lantas ngerock. Karya cipta Ian Antono yang dibawakan Grace seperti dalam “Serenade” dan “Menuju Jenjang” juga tidak terlihat karakter Ian Antono-nya. Syair bertema percintaan dan motivasi yang ditulis Ian Antono memang cukup kontemplatif, sehingga tidak disangka lagu ini karya sang gitaris lagu-lagu Rock sebagaimana yang kita kenal. [lys/cover:musica]
Track List:
1. Lihatlah Air Mata - Grace Simon
2. Pelarian - Titik Hamzah
3. Pasungan - Yusuf Antonius
4. Nyanyian Petani - Bambang Ade
5. Serenade - Ian Antono
6. Cintamu-Cintaku - Anto
7. Lembayung di Senja - B. Hariadi
8. hanya Untukmu - Butje Pattie
9. Lagu Kenangan - Minggus Tahitu
10. Untung Aku Bisa - Utje F Tekol
11. Menuju Jenjang - Ian Antono
| Artist / Band | Grace Simon |
| Judul Album | Pelarian |
| Label | Musica |
| Rating | ![]() ![]() ![]() |







