Kantata Takwa, Gerakan Sosio-Religi yang Dibalut Musik

Apa jadinya jika musisi, penyair dan pengusaha berkolaborasi? Anda bisa simak sendiri dalam album "Kantata Takwa", besutan perusahaan label PT Airo Swadaya Stupa Records. Latar belakang musisi-penyanyi dan pengusaha ini memang sudah teruji. Iwan Fals, misalnya, sebagai penyanyi yang ngetop era 80-an terkenal dengan syairnya yang "merakyat" dan kritis. Kemudian, WS Rendra (alm) dikenal sebagai penyair yang kritis, sekaligus puitis, sering kali membuat sejumlah kalangan merasa panas kupingnya. Tidak heran, bila dimasa Orde Baru, penyair yang dijuluki Si "Burung Merak" sering masuk penjara. Kemudian, Setiawan Djodi. Pengusaha bidang perminyakan yang dahulu dekat dengan lingkar kekuasaan keluarga Cendana, merupakan sosok pengusaha yang seniman. Keterampilannya memainkan gitar menjadikan Setiawan Djodi sebagai salah satu gitaris yang patut diperhitungkan era 80-an.
Selain mereka bertiga, perhelatan grup musik yang cukup fenomenal ini juga cukup terbantukan melalui peran Sawung Jabo, Jockie Suryoprayogo, arranger dan pemain keyboard senior; Donny Fatah, pemain bas musik rock yang tergabung dalam god bless; dan Innisisri, seorang pemain drum dan perkusi yang kreatif.
Dalam sebuah film musikal yang dilansir beberapa waktu lalu, kita bisa menyaksikan proses terbentuknya ide membuat "Kantata Takwa". Terlihat jika terbentuknya band ini membawa misi gerakan sosial-religius para seniman yang diejawantahkan dalam musik. Tak heran, hasil bermusik mereka tidak setengah-setengah. Sejumlah syair kritis, beberapa berasal dari syair Rendra, dipermak sedemikian rupa menjadi sebuah karya musik yang unik. Misalkan lagu "Kesaksian" yang liriknya mengungkapkan sebuah kesaksian akan kebenaran yang harus dikabarkan. Kemudian "Paman Doblang" yang syairnya bercerita tentang "pemasungan"
Album berlabel Aero records yang juga milik pengusaha Setiawan Djodi, ini dilansir akhir 1989 dengan bonus tiket menonton pertunjukkan konser "Kantata Takwa" di Stadion senayan tanggal 23 Januari 1990. Tidak mengherankan jika konser tersebut menjadi konser terbesar dalam sejarah musik Indonesia. Selain jumlah penontonnya yang banyak (stadion utama penuh dan masih ada yang tidak kebagian nonton dan terpaksa diluar) juga tata panggungnya yang tergolong modern. Selang konser di Senayan, Kantata menggelar Tour ke berbagai daerah, antara lain konser di Surabaya pada 11-12 Agustus 1990 dan konser di Solo pada 11-12 September 1990.
Penggarapan musik dialbum ini cukup ciamik, mulai dari lagu "Katata Takwa" hingga "sang Petualang". paduan musik dengan nuansa musik teatrikal diatas panggung kerapkali disajikan dalam sejumlah lagu. Lagu "Kantata Takwa" yang ditempatkan dalam posisi pertama (lagu 1) dalam album ini. Dimulai dengan ucapan syahadat "Laa Illahailallah" yang meluncur dari lidah Setiawan Djodi menjadikan suasan syahdu dalam lagu ini. Kemudian, suara gitar Djodi yang meraung-raung diikuti dengan koor bersama para personel, menjadikan karakter lagu ini semakin kuat. Pada bagian tengah lagu malah disisipkan pembacaan ayat suci Al-Quran "Ayatul Kursi" yang diriingi dengan musik dan lantutan syahadat.
Terjemahan syair "Kesaksian" karya WS Rendra menjadikan album ini menjadi lebih bermutu. Diawali dengan dentingan piano Jockie yang khas, dipadu dengan permainan gitar Setiawan Djodi yang lembut, serta lantunan suara Iwan Fals yang bisa dinikmati mulai dari nada terendah hingga tinggi.
Nuansa yang agak nge-rocks ditampilkan dalam tembang "Orang-orang Kalah". Kegarangan Setiawan Djodi memainkan gitar, ditimpali dengan teriakan Iwan Fals dan Sawung Jabo membuat nuansa lagu ini semakin rock. Belum lagi syairnya yang begitu menyentuh karena membela kaum marginal yang terus dan selalu terpinggirkan oleh pembangunan. Orang Kalah/Jangan Dihina/Dengan cinta/Kita bangunkan....
Syair yang puitis ternyata sangat memungkinkan dimainkan dalam sebuah lagu. WR Rendra yang terlibat intensif dalam penggarapan lagu ini, melepaskan begitu saja syair puisinya menjadi karya musikal yang hebat. Tentu saja, sikap yang diambil Rendra merupakan bentuk kepercayaan kepada para koleganya yang sudah berpengalaman dipentas musik Indonesia. WR Rendra tidak mendikte bagaimana syairnya akan menjadi sebuah lagu, namun penyair ini melepaskan para musisi untuk menterjemahkan lagu sesuai dengan karakter syiar.
Dan memang, syair WR Rendra memang peka dengan nuansa lingkungan, isinya bukan hanya pelampiasan perkataan dalam simbolisasi "kerajaan" namun juga pesan yang disampaikan begitu sesuai dengan realitas. Kesadaran adalah Matahari/Kesabaran adalah Bumi/Keberanian menjadi Cakrawala/Perjuangan adalah Pelaksanaan Kata-kata.
Menyimak lagu per lagu dalam album ini seolah kita disajikan sekaligus disadarkan atas sebuah realitas sosial yang sedang terjadi hingga kini. Balutan syair WR Rendra dengan musik pengiring menjadikan catatan tersendiri, betapa album ini menjadi semacam karya fenomenal para musisi Indonesia yang tergabung dalam "Katata Takwa". Sebuah perpaduan yang khas lengkap dengan ciri ke-Indonesiaannya dalam racikan musik, syair hingga dan pentas. Sangat terlihat, bahwa Kantata bukan sekedar menyajikan kenikmatan bermusik, namun juga sebuah gerakan sosio-religi. [lyz/cover:airo]
Track List
1. Kantata Takwa
2. Kesaksian
3. Orang-orang kalah
4. Paman Doblang
5. Balada Pengangguran
6. Nocturno
7. Gelisah
8. Rajawali
9. Airmata
10. Sang Petualang
| Artist / Band | Kantata Takwa |
| Judul Album | Kantata Takwa |
| Label | Airo |
| Rating | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |








