NEWS

Konser Mengenang Ismail Marzuki Digelar Di Jakarta

Selasa, 13 Januari 2009
Tanggal 23 Januari mendatang di Usmar Ismail Concert Hall, Jakarta, akan digelar konser persembahan untuk mengenang komponis Indonesia, Ismail Marzuki. Sederet musisi dan penyanyi lintas generasi yang terlibat di konser bertajuk A Tribute to Ismail Marzuki ini adalah Kris Biantoro, Gatot Soenjoto, Tohpati, Andien, Rio Febrian, Rieka Roeslan, dan Baim.

Produser acara, Kumoratih Kushardjanto, mengungkapkan acara ini merupakan salah satu upaya untuk mengajak generasi muda mencintai karya-karya klasik para maestro musik Indonesia. Menurutnya konsep konser persembahan untuk Ismail Marzuki ini adalah musik jazz dalam format big band. Para penyanyi dan musisi akan membawakan lagu-lagu Ismail Marzuki dalam berbagai versi dengan aransemen ulang yang lebih menarik dan segar. Nantinya bakal ada 12 lagu gubahan Ismail Marzuki yang akan dibawakan, seperti Kopral Jono, Sepasang Mata Bola, Juwita Malam, dan Payung Fantasi.

Ismail Marzuki adalah komponis besar yang dimiliki Indonesia. Ia lahir di Kampung Kwitang, Jakarta Pusat, pada 1914. Sejak tahun 1930-an hingga 1950-an, Ia menciptakan sekitar dua ratus lima puluh lagu dengan berbagai tema dan jenis aliran musik yang memesona. Hingga saat ini lagu-lagu karyanya yang abadi masih dikenang dan terus berkumandang di masyarakat. Dalam dunia seni musik Indonesia, kehadiran putra Betawi ini mewarnai sejarah dan dinamika pasang surutnya musik Indonesia.

Lagu-lagu ciptaannya antara lain "Rayuan Pulau Kelapa" (1944), "Gugur Bunga" (1945), "Halo-Halo Bandung" (1946), "Selendang Sutera" (1946), "Sepasang Mata Bola" (1946), dan "Melati di Tapal Batas" (1947).

Sebagai komponis, Ismail Marzuki dikenal produktif dan pandai melahirkan karya-karya yang mendapatkan apresiasi tinggi dari masyarakat. Dalam bermusik, dia mempunyai kebebasan berekspresi, leluasa bergerak dari satu jenis aliran musik ke jenis aliran musik yang lain.

Ismail Marzuki juga punya kemampuan menangkap inspirasi lagunya dengan beragam tema. Keterpesonaan Ismail Marzuki pada sisi-sisi romantisme masa perjuangan melahirkan lagu-lagu bertema cinta dan perjuangan. Meski lagu-lagu karyanya tampak sederhana, syairnya sangat kuat, melodius, dan punya nilai keabadian.

Komponis pelopor yang wafat 25 Mei 1958 ini telah melahirkan lagu-lagu kepahlawanan yang menggugah jiwa nasionalisme. Maestro musik ini menyandang predikat Komponis Pejuang Legendaris Indonesia.

Ia dianugerahi gelar pahlawan nasional oleh Presiden RI, dalam rangkaian Hari Pahlawan 10 November 2004 di Istana Negara. Ia dikenal sebagai pejuang dan tokoh seniman pencipta lagu bernuansa perjuangan yang dapat mendorong semangat membela kemerdekaan.(antara/bug)
baca berita di lintas berita
EVENTS
Tidak ada event minggu ini