
Jangan Panggil Saya Maestro
“peristiwa yang lalu mejadi pelajaran buat saya, artinya saya tidak bisa sembarangan pamit. Saya juga sudah ditegur Tuhan, jadi juga ada hikmahnya Saya tidak bisa membiarkan talenta yang diberikan Tuhan. Itu dosa” sesal Idris dihadapan wartawan suatu ketika.
Tahun 1994, para pengemar musik Indonesia sempat dikejutkan dengan pernyataan Idris. Pada konser yang digelar 9 Agustus 1994 musikus kelahiran 7 juni 1938 ini menyaakan mundur. Sejak itu, dia menghilang dari panggung. Ucapan itu sepertinya bermakna sanga dalam. Itulah konser Idris yang terakhir. Idris sepertinya sudah matap memutuskan untuk ‘mengantungkan biola’.
“Kata pamit waktu itu saya ucapkan dengan sadar seusai konser. Permaian kami saat itu buruk sekali. walaupun oaang-orang memberikan aplaus, saya merasa tidak tampil sesuai harapkan. Pada aat itu saya merasa tidak bertanggung jawab. Sebagai pemimpin, saya hanya menyalahkan diri sendiri, dan bukan pemain. Saya dapat pelajaran yang pahit. Saya malu dan makanya saya pamit, “kenang Idris.
Kini Idris memberanikan diri untuk tampil lagi Persembahan Idris Sardi 2003 (PIS), demikian judul pergela itu, sesuai permintaanya. Idris memang menolak pergelaran musik ini disebut konser. Alasannya ia tidak ingi terbebani istilah. Idris lebih menekankan pada sajian 41 repertoar dengan dukungan sembilan penyanyi dan 34 musikus serta kelompok tari Gumarang Sakti. Jika tidak ada halangan, PIS akan berlangsung pada 18 juni 2003 di Puri Agung, Hotel Sahid Jaya, Jakarta pusat
“tidak mudah bagi saya untuk tampil lagi. Namun selama ini, saya merasa ada tanggung jawab yang belum tercurah tuntas. Usia saya suda 65 tahun dan lama tidak tampil. Kata persembahan itu artinya jika saya diizinkan Tuhan. PIS sebagai upaya saya membayar utang-utang kepada Tuhan dan negeri ini.” kata violis pemilik biola kaca itu
Bukan Maestro
Bagi Idris, pertunjukan PIS sangat besar artinya. Sampai tahun 2003, seorang Idris Sardi telah menmpuh perjalann karier selama 50 tahun. Selain itu, pada 7 Juni mndatang usia Idris akan bertambah menjadi 65 tahun. Untuk itu, peraih 17 piala citra ini merasa sudah saatnya untuk mengungakapkan rasa syukur dan talenta musik yang diberikan Tuhan. Sebagai Musikus besar Indonesia, banyak orang memberikannya berbagai julukan. Tetapi Idris tampaknya hampir tidak peduli.
“jangan panggil saya Maestro. Si Biola Maut juga tidak. Jangan coba-coba. Panggil saja saya Mas Idris. Saya ini masih belajar, masih banyak yang lebh baik dari saya. Dulu mungkin saya populer. Tetapi orang besar belum tentu orang populer, dan orang populer juga belum tentu orang besar,” katanya merendah.
Tetapi Idris memang pernah diberi penghargaan Golden Maestro Award dari Yayasan Pendidikan Musik pada tahun 2002. Idris juga pernah menerima Legenda BASF Award dan penghargaan sebagai Tokoh Legendaris Pemain Biola, Komposer dan Konduktor. Sri Sultan Hamengku Buwono X bahkan memberikan mahkota sebagai penghargaan, penghormatan, pengabdian, dedikasi dan konsistensi di bidang musik Indonesia pada tahun 2001. Di sisi lain, Idris merasa dirinya sudah tidak lagi cukup komersial.
"Sejak awal saya sudah memperingatkan promotor. Saya ini bukan orang yang laku dijual. Tetapi mereka bersikeras. Ya, sudah, pada akhirnya saya pasrah kepada Tuhan. Setiap kali bermain biola. saya yakin lalu ada campur tangan Tuhan. Kalau nanti pergelaran itu kurang mendapat sambutan, saya tinggal berkata. “Tuhan," ujarnya merendah.
Sejak usia lima tahun, Idris Sardi memang telah, menekuni musik klasik. Tetapi pada usia tujuh tahun, dia baru diajari sang ayah bermain biola. Setelah besar, Idris belajar di Akademi Musik Indonesia pada tahun 1950-1955. Selain belajar dari sang ayah Mas Sardi, Idris juga belajar musik dari sejumlah musikus asing seperti Nikolai Varfolomijeff (Rusia), Hendrick Tordasi & Frank Sabo (Hongaria), Boomer (Jerman, Keney (Inggris) dan Madanie Renee Tovanos (Prancis) dan Henk Te Straake (Belanda).
Malu
Seusai menimba ilmu dari master-master musik di luar negeri selama bertahun- tahun, Idris justru tertantang bermain musik keroncong dan irama Melayu. Dia tak ragu belajar dari Achmad & Isbandi (Orkes Puspa Kencana) dan A Chalik (Orkes Bukit Siguntang). "Buat orang yang sudah masuk sekolah musik klasik, saya juga tidak boleh main di luar klasik. Saya diisolasi. Tetapi ketika ayah meninggal tahun 1953, saya mulai berubah. llmu klasik saya selama lima tahun lebih, tetapi ternyata tidak mampu memainkan keroncong dan musik Melayu. Saya malu dan terpukul," katanya.
Sebagai putra Indonesia, Idris merasa malu jika tidak mampu memainkan musik keroncong. Apalagi ketika pulang ke Indonesia, dia bermain untuk stasiun Radio Republik Indonesia. Sejak itu, Idris melanggar aturan-aturan baku klasik. Dari kampung ke kampung, dia bertanya tentang musik keroncong. Bahkan Idris mengaku sempat belajar dari seorang tukang becak.
"Klasik, ilmu musik paling tinggi. Namun ternyata musik negeri kita terlalu kaya dibandingkan dengan Barat. Tahun 1950, saya masuk orkestra Istana dan di sanalah mulai berkembang. Saya memainkan musik etnik negeri ini, tetapi dengan dasar musik Barat," tambah Idris.
Letnan Kolonel
Mengenai perkembangan musik klasik sekarang, Idris melihat banyak kemajuan. Dulu tidak ada permainan biolaklasik yang mengalami aransemen baru seperti Bond, atau Vanessa Mae. Mereka sangat ekspresif dan energik. Musik klasik diramu dengan unsur hiburan, sehingga muncul dalam kreasi berbeda. Di sisi lain, pertunjukan musik klasik juga makin sering karena pertumbuhan orkestra baru. Kolaborasi orkestra plus permainan biola dengan jenis musik lain juga makin berkembang.
"Tahun 1960-1970-an, musik klasik memang sudah diterima. Sayang mereka tidak bisa menghargai. Saya pernah diminta tampil di restoran, sementara orang- orang sedang asyik makan. Padahal kalau cuma begitu, pakai kaset saja juga bisa. Lantas saya main buat siapa! Yang ke sana datang buat makan kok, bukan untuk dengar musik. Tetapi toh waktu itu, saya lakoni juga. Bagus juga buat pengalaman saya," tambahnya.
Kini Idris tentu menolak jika ditawari tampil di restoran. Termasuk juga di hotel-hotel saat perayaan Tahun Baru. Prestasinya sudah mendunia. Bahkan saat usia 15 tahun, Idris sudah menjadi solis dan konser master termuda di Orkes Studio Djakarta. Mulai tahun 1953, dia kerap tampil rutin di istana dalam acara-acara kenegaraan. Di tahun 1955, Idris mengikuti studi tur ke Eropa. Empat tahun kemudian, dia kembali dan membantu RRI Yogyakarta.
Tahun 1966, Idris menjadi pelatih Satuan Musik Militer untuk 10 Kodam di Indonesia dengan murid sekitar 700 orang. Tahun itu juga dia diangkat menjadi pemimpin orkestra TNI Angkatan Darat dengan pangkat Letnan Kolonel CAJ. Pasukan Kopasus juga pernah digemblengnya pada tahun 1997.
Pasrah
Kemampuan musiknya tidak hanya dibuktikan di panggung. Lewat sejumlah karya layar lebar, Idris memberikan sumbangan besar. Sejak tahun 1960, dia telah menghasilkan lebih dari 300 karya. Beberapa film seperti Pesta Musik La Bana (1960), Bernafas dalam Lumpur (1970), Budak Nafsu (1984), Doea Tanda Mata (1985), Tjoet Nja Dhien, (1988) dan Pacar Ketinggalan Kereta (1990). Idris juga membuat ilustrasi musik untuk 130 episode sinetron.
Idris sempat menderita sakit kanker usus di tahun 1998. Sejak itu, dia juga mengasingkan diri ke Pondok Pesantren Tangerang di bawah pimpinan KH Ubadillah Khalid. Saat berada di sana, dia juga pernah membuat rekaman Shalawat Nabi bersama para santri. Kemudian sepanjang tahun 2000, Idris kembali aktif dan menjadi duta kesenian pemerintah Indonesia.
Saat ini, Idris Sardi hanya berharap pertunjukannya berjalan lancar dan sukses. Maklum selama beberapa tahun, dia mengaku tidak lagi menyentuh biola. Idris berharap seluruh obsesinya bisa tercapai lewat konser Persembahan Idris Sardi 2003.
"Saya main untuk orang lain. Saya tidak pernah bisa main yang saya mau. Saya belum puas. Tetapi saya sadar mesti berkompromi dengan banyak pertimbangan. Saya ingin membahagiakan banyak orang. PR saya adalah bagaimana berkomunikasi dengan hadirin penikmat. Saya harus bisa menerjemahkan rasa ke panggung dan itu banyak berpengaruh. Untuk itu, saya pasrah pada Tuhan” katanya lagi. [Pembaruan/ Unggul Wirawan/foto:istimewa]