MEMBER LOGIN
ON STAGE
Tiket Sold Out
Rhoma Puaskan Dahaga Penggemarnya Di Amerika

Kamis, 16 Oktober 2008
Gedung Utama Wisma Indonesia di 2700 Tilden Street NW, Washington, DC 2008, Senin (13/10) digoyang oleh musik dangdut ala Rhoma Irama. Sekitar 250 penonton yang rela membayar tiket sebesar US$ 30 (sekitar Rp. 300.000,-) itu terlihat asyik bergoyang di sepanjang konser raja dangdut Indonesia itu.Malam itu Bang Haji, demikian Rhoma Irama biasa dipanggil, menyanyikan sekitar 20 lagu seperti Darah Muda, Begadang, Judi, dan Gali Lubang Tutup Lubang.
Duta Besar Indonesia untuk AS Sudjadnan Parnohadiningrat dan Wakil Dubes Salman Alfarisi serta para pejabat Kedutaan Besar Republik Indonesia di AS, tak tahan untuk menikmati musik goyang Oma. Bahkan, Sudjadnan mengaku sebagai penggemar berat lagu-lagu Oma.
“Waktu mahasiswa dulu. Saya sengaja naik kereta dari Jogja ke Jakarta untuk menyaksikan aksi Raja Dangdut kita Oma Irama. Jabatan saya sebagai Dubes Indonesia di AS mungkin akan berakhir tapi Oma Irama sebagai Raja Dangdut tetap akan dikenang masyarakat selamanya,” kata Sudjadnan yang disambut tepuk tangan hadirin.
Kedatangan Oma ke Negeri Paman Sam rupanya bukan cuma untuk menghibur warga Indonesia di Washington. Oma datang atas undangan Departemen Musik University of Pittsburgh Amerika untuk tampil dalam sebuah seminar tentang Islam, Terorisme, dan Kebudayaan Pop.
Peran Oma dalam blantika musik Indonesia tidak perlu diragukan lagi. Dialah yang memopulerkan irama melayu yang sekarang lebih umum disebut dangdut.
Di Indonesia, pengakuan terhadap popularitas Oma ditunjukkan dengan jumlah penggemarnya yang amat banyak. Sedangkan di luar negeri, sepak terjangnya mendorong seorang sosiolog dari Ohio State University, Prof William H Frederick, untuk menyusun tesis Rhoma Irama and the Dangdut Style: Aspect of Contemporary Indonesia Popular Culture (1982). Tentang dangdut, Frederick menyebutnya sebagai bukti jeniusan Indonesia setelah Candi Borobudur. ”Rhoma telah melakukan revolusi dalam dunia musik Indonesia," kata Frederick dalam karyanya.
Selain Bali dan terorisme, dangdut telah memaksa mata internasional melirik Indonesia. Seteru Oma, Inul Daratista pernah menjadi bahan liputan media internasional seperti Time, Newsweek dan The Economics. Seperti hanya Oma, Inul dianggap fenomenal dengan dangdut versinya sendiri yang tak bisa dilepaskan dari goyang 'ngebor'.
Tidak sampai di situ, dangdut pun mulai populer di Amerika. Buktinya, negeri gudangnya musik pop itu menggelar ajang Dangdut in America sejak 2007. Pemenangnya, Arreal Hank Tilghman saat ini sedang berada di Indonesia. Konon pemuda kulit hitam berambut gimbal ini bisa menyanyi dangdut setelah diajari Thomas Djorghi, penyanyi dangdut Indonesia. (surya)
Berita Sebelumnya