Advertisement

PROFIL COK RAMPAL

COK RAMPAL: Kekuatan Musik Ada pada Frekuensi

Cok Rampal

Cok Rampal musisi handal , nama aslinya Tulus Setio , lahir di Malang Jawa Timur pada 17 Juni 1954, anak ke dua dari empat bersaudara. Masa SD hingga SMA dihabiskan di Malang . Pada SD kelas 2 sudah bermain gitar dan pernah ikut band bocah di malang dan nge-band hingga SMP.

Tahun 1974 selepas dari SMA di Malang , Cok Rampal meneruskan kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada departemen seni rupa. Cok menikah pada tahun 1983 dengan Indrawati dan memiliki putra-putri yaitu Didia Adakita dan Kania Titi Makna Putri. Pada saat mahasiswa itulah Cok Rampal menyukai musik-musik folk / country pada saat itu seperti Donovan, Bob Dylan, John Denver dan banyak lagi, pada saat itu Cok suka dengan baju / atribut country seperti sepatu basket, celana jeans belel, baju kotak-kotak, ditambah lagi dengan iklan Marlboro pada jaman itu dengan pemuda memainkan musik folk.

Pergaulan Cok dengan musik pada saat itu dengan memainkan alat musik banjo dan gitar akustik yaitu pada acara api unggun di kampus ITB dan pada saat itu memainkan lagu-lagunya John Denver, teman-teman cok akhirnya memanggil Cok dengan Cok Rampal, Cok adalah sebutan waktu kecil dan Rampal adalah nama desa di Malang. Bersama teman-temannya di kampus ITB Cok membentuk grup dengan nama INPRES, INPRES sendiri adalah terdiri dari mahasiswa seni rupa dan planologi mereka adalah Tulus Setio atau yang akrab disapa Cok Rampal dari jurusan Seni Rupa menggunakan instrument mandolin, banjo, gitar, ukulele, string, steel gitar dan vokal. Harry Soekar atau yang akrap disapa Harry Suliztiarto dari jurusan patung menggunakan instrument gitar 12 tali, harp, perkusi, bass drum, dan vokal. Rasmini atau Sarah David dari jurusan desain tekstil, menggunakan instrument bellyre, suling blok dan vokal. Bambang Supriyadi atau yang akrab disapa bang Jo dari jurusan patung menggunakan instrument seruling besi, gitar, banjo tenor, dan perkusi. Sulis dari jurusan Teknik Planologi menggunakan instrument bass gitar, clarinet, piano, snaredrum, cymbals dan vokal. Inpres merilis albumnya yaitu INPRES I/V/’80 , banyak nya register peralatan yang digunakan membuat album ini kaya akan harmoni sound yang indah juga lirik-liriknya yang puitis , eksplorasi dari filosofis instrument musik yang digunakan.

Udara dingin pagi Bandung bulan February 1980 tidak dapat melepaskan penginderaan mereka (Inpres) terhadap peristiwa eksekusi mati Kusni Kasdut yang terjadi di Greges Surabaya, peristiwa itulah yang mereka lukiskan di dalam album ini dan tema-tema sosial lainnya. INPRES I/V/’80 memiliki arti angka romawi I adalah notasi untuk album pertama, angka romawi V adalah jumlah personil mereka dan ’80 adalah tahun dimana album ini dirilis. Album ini dipengaruhi oleh musik Irish dan Celtic ( Inggris kuno), Album ini hanya sempat beredar di masyarakat sekitar 2-3 bulan saja, ketika itu Pangkopkamtib meminta agar nama Inpres ( Instruksi Presiden) yg mereka gunakan diganti dengan nama lain, pihak Musica menyampaikan problema tersebut kepada personil Inpres, tapi Inpres menolaknya, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan pihak Musica akhirnya menarik distribusi album ini (kaset dan PH) yang telah tersebar. Ada 12 lagu di dalam album INPRES I/V/’80 yaitu : Eloi ! Lama Sabactani ! , Greges, Pagi Februari 1980, Praduga, Mana Dimana Desaku, Kedai Tuak, Dibawah Matahari. Berusaha Disisi Tuhan, Buyung / Gerhana Negeri, Nyanyian Bencana, Requiem / Tanah Tenteram, Sehari Suatu Negeri, Buruh Di Kota Tuan. Inpres pada saat itu banyak maen di Bandung diantaranya di gedung merdeka.

Tahun 1982 ada kurir dari Musica Studio yang datang menemui Cok dimana Iwan Fals minta musik-nya di iringi sama Cok Rampal karena ingin ada suasana folk pada album yang saat itu Iwan Fals sedang membuat album "Opini", yang pada saat itu Willy Soemantri sebagai pengarah musik. Cok Rampal memainkan Banjo dan Mandolin. Setelah selesai dengan album Opini, Cok kembali menggeluti seni rupa. Seiring berjalannya waktu Cok Rampal bermain musik dengan mengiringi Rita Ruby Harland, Endar Pradesa di Jackson Records, Puput Novel hingga keroncong Waljinah, dll. Tahun 1991,

Merasa cocok dengan Cok Rampal, Iwan Fals kembali mengajaknya untuk bikin album, padahal Iwan Fals baru saja menyelesaikan rekaman Swami II meskipun albumnya sendiri belum keluar. Iwan Fals menyampaikan keinginan yang kuat untuk membuat album baru tersebut kepada Cok Rampal , Cok setuju asalkan tidak menyalahi aturan kontrak dengan Swami II, akhirnya dipilihlah musisi pendukungnya , Cok mengusulkan Mates pada Bass, Gilang Ramadhan pada drums, dan Totok Tewel, musisi yang lain nanti kita fikirkan di studio saja dan Iwan Fals setuju, demikian dialog yang terjadi pada saat itu di Lembang.

Pada saat itu mereka menyamakan persepsi, tema-nya nuklir, lagu pada saat itu belum ada,imajinasi berjalan, berfikir lebih, dan kontemplasi. Ketemulah Gins Studio, semuanya dibiayai oleh Iwan Fals. salah satu lagu yg mengangkat mengenai bahaya nuklir / PLTN yang dituangkan dalam lagu dengan judul Proyek 13. Album Cikal banyak bunyi-bunyi symbol, sastranya sulit dicerna, ini adalah musik ambience yaitu musik suasana yang mewakili perasaan, mengangkat tema nuklir dan sosial kemanusiaan. Ada 10 lagu dikemas dalam album Cikal, ada Bram Nabi atau Mahesa Ibrahim pada sastranya, Iwan Fals, Cok Rampal, Totok Tewel, Mates, Gilang Ramadhan, Embong Rahardjo , Andi, Yunus. Banyak register peralatan yang digunakan pada album Cikal. Setelah master Cikal selesai, ada pihak yg tertarik untuk membeli master tsb , yaitu Amok dari Indo Music Box, Amok sebenarnya bukan “pemain” kaset, yang lain tidak ada yg berani membeli master Cikal. Jadilah album Cikal yang didistribusikan melalui Indo Music Box. Album Cikal dirilis di pasaran, banyak penggemar Iwan yang kecewa, album ini tidak diterima di jalur pop industri, tapi Iwan Fals sangat puas.

Cok Rampal kembali menekuni dunia seni rupa, pada saat itu Cok sedang mengerjakan patung tembaga seberat 2,5 tons dengan tinggi 10 meter dilapisi emas 3 ons di Cawang Kencana yang berdekatan dengan UKI, Iwan Fals kembali mengajak Cok untuk membuat album lagi, Cok Rampal minta waktu untuk menyelesaikan patung tembaga tersebut, teman-teman dapat memahami, pekerjaan patung selesai dan mulailah mereka mengerjakan album tersebut, album Hijau sifatnya lebih ke grup sedangkan album Cikal tidak. Album Hijau menghadirkan 7 lagu yaitu lagu satu, lagu dua, lagu tiga, lagu empat, lagu lima, lagu enam dan hijau. Album ini juga banyak mengangkat tema sosial, lingkungan, kemanusiaan, dan politik.

Banyak musisi yang terlibat dalam album ini termasuk juga banyaknya peralatan yang digunakan dalam album ini . proses rekaman pada Juni 1992 di Musica Studio, dan diedarkan oleh Prosound. Iwan Fals sebagai penyanyi utama menggunakan Gitar Listrik, Gitar Bolong. Heirrie Buchaery menggunakan Gitar Bolong, Bass gitar, Gongseng, Tamborin, Bel Sapi, Suara latar, penyanyi. Jerry Soedianto menggunakan Gitar listrik, Gitar bolong, 12 Snar, penyanyi. Cok Rampal menggunakan Gitar bolong, mandolin, suara latar, penyanyi. Bagoes AA menggunakan Strings, synthelead, synthebrass, organs, vibraphones, piano, suara latar, penyanyi. Iwang Noorsaid menggunakan Keyboards, synth, piano synth, rebana, lead synth, suara latar, penyanyi. Arie Ayunir menggunakan Rebana, tom tam, cymbals, drums, bell, tamborin, gongseng, klontongan sapi, china bell, kendang, suara latar, penyanyi. Jalu menggunakan Rebana, kendang, tom tam, cymbals, tamborin,wood block, suara latar, penyanyi. Video klip dikerjakan oleh Cok Rampal, video klip lagu satu dikerjakan dengan menggunakan lokasi sebuah gedung tua yang sudah tidak digunakan lagi di daerah Percetakan Negara dengan menggunakan property patung-patung dari daun pisang yang di ikat dengan tali rapiah, ada sekitar lima puluh patung. Atmosfirnya suram terlihat dari wajah musisinya yg menunduk pada video klip tersebut. Album Hijau secara visual dan bunyi sangat menarik.

Album ini tidak mendapat respon yang baik oleh masyarakat pada saat itu, hal ini menjadikan banyak tuduhan di masyarakat bahwa Iwan Fals jika bekerja sama dengan Cok Rampal dalam membuat album selalu musiknya “kacau” seperti pada album Cikal (1991) dan Hijau (1992). Cok Rampal dalam bermusik tidak mau memikirkan lagu album tersebut laku atau tidak karena hanya maen di harmoni dan frekuensi. Cok Rampal dan Iwan Fals dalam membuat album selalu melahirkan banyak ide dan gagasan, banyak berfikir, dan merasakan, banyak symbol. Album Cikal dan Hijau sangat menarik untuk di apresiasi, meskipun tidak sukses secara industri.

Pergaulan di Hijau kembali berlanjut di gelombang putih, dimana ada Cok Rampal, Iwang Noorsaid, Iwan Fals, Jalu, Franky dll. Di dalam perjalanan bermusiknya , Cok Rampal juga pernah bermain bersama Iwan, Totok Tewel & Inisisri di Sirataka Jepang. Cok Rampal tampil trio bersama Riza Arshad (piano elektrik) dan Ari Ayunir (Drums) pada acara Pekan Komposer Muda Indonesia di Dago Atas Bandung, mereka memainkan komposisi selama setengah jam dengan format free jazz, komposisi bebas yang berjalan di waktu, Cok Rampal menggunakan instrument alat petik Hammer Dulcimer yang dibeli di US (seattle). Komposisi hening…pecah…hening kembali…pecah lagi… Explorasi seorang Cok Rampal terhadap instrument Hammer Dulcimer tidak berhenti disitu saja, Cok juga mengiringi KH. Mustofa Bisri dalam bersyair dengan petikan Hammer Dulcimer-nya dan air sebagai penjaga tempo, air sebagai tala emosi atau konduktor dalam suatu orkestra.

Pada tahun 1996 Cok Rampal bergabung dalam Trahlor yang menghasilkan album Lagu Pemanjat – Trahlor. Satu lagu dinyanyikan oleh Iwan Fals yaitu Lagu Pemanjat selebihnya dinyanyikan oleh Cok Rampal dan Harry Suliztiarto. Cok Rampal juga terlibat dalam konser regular Iwan Fals di Trans TV beberapa tahun yang lalu, meskipun hanya berada di belakang layar.

Pada album 50:50 Iwan Fals, kembali Cok Rampal pada lagu Ikan-Ikan mencurahkan idenya dengan menggunakan instrument mandola untuk menggambarkan atmosfir dayak Kalimantan dimana asal dari Ikan Arwana tersebut, tanggapan pendengar terhadap lagu Ikan-Ikan…yah gini lagi..gini lagi,kok lagu pop cinta ada musiknya seperti itu, tapi bagaimana? Cok Rampal harus preposisi mengenai dayak karena ikan Arwana, memang lagunya minta seperti itu, yang minta lagunya bukan manusianya, alam lagu tersebut menghendaki seperti itu, suasananya minta seperti itu…yah..saya kasih. Lagunya minta gini…orang-orang berfikir minta tumbal, bukan ! otak kita minta ditulis seperti ini tapi lagunya tidak minta seperti itu, diomongin memang sulit, kalau ditulis dengan notasi ya gk cocok…kadang-kadang begitulah rasanya.

Mengenai alat musik petik, Cok Rampal tidak memfokuskan pada merek tertentu karena jika mengerjakannya sunguh-sunguh, ngelemnya bagus dan kayunya bagus, hasilnya pasti baik., pada saat muda dulunya suka gitar Fender, Washburn juga dimainkan, gitar akustik menggunakan Martin, instrument Mandolin menggunakan Gibson.

Pada alur seni rupa sesuai dengan background formalnya di seni rupa ITB , Cok Rampal bereksplorasi dengan mengerjakan lukisan untuk Hotel Borobudur, gedung jasa rahardja kuningan, patung cawang kencana, pameran lukisan dll. Cok interest kepada jalur Impresionis dan Abstrak, salah satu bentuk lukisan impresionis karya Cok adalah gambar seorang nenek yang sedang tertawa sekaligus menangis. Juga ada lukisan impresi mengenai alam benda. Jalur abstrak Cok salah satunya adalah lukisan mengenai konflik, dimana pada saat mengerjakan lukisan tersebut sanggar Cok dibelakang kebakaran.

Musik bagi Cok Rampal sangat abstrak, energi ada di frekuensi. "Main musik saya jadi inget di frekuensi, untuk bermain alat musik adalah frekuensi yang dicari, Cuma di Indonesia banyak musik yang mengiringi nyanyian padahal musik adalah musik, musik adalah intelektual, bukan keartisannya, musik tradisi adalah intelektual, sesuai dengan lingkungan alamnya, religi, pakem partiturnya, intelek sekali, bahkan tidak menggunakan merek yang mahal tapi bisa menghasilkan frekuensi yang kuat bahkan menjadi tradisi hingga ratusan tahun," ujar Cok Rampal menjelaskan.

Dikatakan Cok, bahkan anak kecil bisa tidur digendongan ibunya dengan senandung sederhana dari ibunya, musik bisa ngiringin tentara, bisa menang, mengiringi supporter di arena olah raga dll. Obsesi dari Cok Rampal adalah membuat sekolah kesenian untuk mencetak orang-orang yang tidak seragam, biasanya lulusan sekolah berfikirnya seragam, berfikir dengan metoda terbalik juga tidak apa-apa.

Cok Rampal dalam pergaulan yang intens dengan Iwan Fals, ibarat maen shadow boxing, sama-sama sudah tau frekuensinya masing-masing. Hingga saat ini Cok Rampal tampil secara regular bersama Iwan Fals Band di desa Leuwinanggung membawakan lagu-lagunya Iwan Fals dengan dengan formasi Iwan Fals pada vokal, Cok Rampal menggunakan mandolin, Herrie Buchaery menggunakan Bass Gitar, Edi Daromi (ex. Elpamas) menggunakan keyboard dan akordion, Sonata lead gitar, Deni menggunakan drums, dimana mereka latihan rutin setiap senin dan kamis mulai jam 9 pagi hingga jam 5 sore.

Tanggal 1 Agustus 2008 kemarin Cok Rampal akan tampil live di TVRI dlm rangka acara Country Road bersama Tantowi Yahya, dan Cok akan menggunakan instrument mandolin. 16 Agustus nanti rencananya Cok Rampal akan tampil live bersama Iwan Fals dkk yang akan direlay oleh Televisi. Sukses buat Cok Rampal ! [Jonny Herbart]

ps: Artikel merupakan hasil ngobrol-ngobrol penulis dengan pak Cok Rampal di rumahnya di Jati Asih pada 27 Juli 2008, pukul 16.30wib s/d 19.35 wib] - IT: thanks to Jonny Herbart