PROFIL BING SLAMET
Foto Bing Slamet

Bing Slamet, Entertainer Indonesia Terbesar

“Sebenarnya dari ketiganya (nyanyi, lawak, dan film) yang ingin saya capai ialah sukses, sebagai suatu profesi yang saya miliki, yang harus diberikan kepada masyarakat. Di Negara yang sudah maju, dengan umur yang tua, seorang biduan tetap mendapat perhatian dari publik dan juga perusahaan-perusahaan piringan hitam” (Bing Slamet,   dalam Bing Slamet Hasil Karya dan Pengabdiannya, karya drs Sutrisno).

Kalau Bing Slamet masih hidup, pada 27 September 2007 telah  berusia 80 tahun. Tapi, walau mendapat anugerah Pahlawan pada 2003, siapa yang mengenal apalagi mengagumi dan meneladaninya? Mari kita sedikit tamasya ke masa lalu yang tak terlalu jauh.

“Saya ingin berkenalan dengan Bing Slamet,” ujar Titiek Puspa saat pertama kali ditanya alasan ingin menjadi penyanyi. Saat itu Bing Slamet adalah Bintang Radio RRI pada 1956. Tak heran, saat mendengar berita duka wafatnya murid dari  M Sagi,   Sjaifoel Bachrie, Soetedjo, Ismail Marzuki dan  Sam Saimun itu, Titiek  yang sedang dalam pesawat menuju tugas menghibur di Sumatera, langsung mengarang lagu Bing yang kemudian dipopulerkan oleh Grace Simon.

Benyamin,yang saat itu belum ngetop, sempat mengintilinya terus untuk menawarkan lagu karya perdananya, Nonton Bioskop--yang kemudian Bing  terima seraya bilang: "sebaiknya kamu nyanyikan sendiri". Babe Ben mengikuti sarannya, dan berhasil diterima publik. Tentu ada juga sumbangan Bing saat ia selalu memberi pengantar sebelum membawakan lagu itu dengan kata-kata:"Ini lagu adik saya, Benyamin”. Kalau kita melihat foto-foto dalam buku Kompor Mleduk, akan terbaca bahasa tubuh Benyamin yang sangat hormat, bahkan terkesan sedikit minder, dengan Bing.  Atau silahkan tonton Ambisi (Nyak Abbas Akub, 1973), bagaimana Ben berguru pada Bing, khususnya saat  berduet Tukang Sayur dan menjadi penyiar radio. Tak heran kalau wasiat terakhirnya adalah dikuburkan di samping makam gurunya.

Tokoh budaya lainnya tak kalah kagum. " Saya cuma senang melihat dagelan dan meniru-nirukan gaya Bing Slamet di sekolahan," ungkap Basuki Srimulat tentang awal mula menjadi pelawak. "Piala ini saya persembahkan untuk Bing Slamet", ungkap Krisbiantoro saat menerima sebuah penghargaan seumur hidup dari sebuah stasiun televisi.

Bing yang kelahiran Jakarta, 18 Desember 1974 itu juga akrab dengan banyak musisi. bersama beberapa nama terkenal seperti Amin Wijaya, Ireng Maulana dan Idris Sardi, ia membentuk band Eka Sapta. Ia juga bergaul dengan musisi seperti  Jack Lesmana, Dick Abel, dan Nyoto (tokoh PKI yang kala itu juga dikenal sebagai musisi). Bahkan dengan Jack dan beberapa musisi yang membentuk Suara Bersama, ia membuat album Mari Bersuka Ria dalam Irama Lenso, dan salah satunya sangat terkenal:   Genjer-Genjer.

Bahkan, sejak usia belasan tahun, ia sudah nongkron di Pasar Ciplak (Sawah Besar, tepatnya di restoran Kalimantan, di Rekutenci yang kini menjadi Lokasari),  bersama para seniman dan intelektual, seperti Sutan Sjahrir Rohisan Anwar, Jamaluddin Malik, Fifi Joung, Chairil Anwar, dan Jilis Tahir—di samping menonton pertunjukan Sam Saimun.

Dialah entertainer yang paling lengkap di negeri ini. Sebagai pemusik dan penyanyi, dia sudah ada di puncaknya. Jadi Bintang Radio, berkelana ke luar negeri. Simak saja lagu-lagu duetnya yang mendahului Benyamin-Ida Royani dari segi kelucuan atau improvisasi--  misalnya dengan Ratna (Pilihlah Menantu), atau dengan Maja Sopha (Susah Senang Kita Bersama, Ade Ade Aje).Atau dengar keaslian Nurlela.

Melawak, ia rajanya. Ia punya Kwartet S bersama Ateng, Iskak, dan Eddy Sud. Sebelumnya, ia membentuk Los Gilos (dan semua dialognya berdasarkan skenario dan ditaati dengan ketat!) bersama Mang Udel dan Mang Cepot dan menjadi pelopor lawakan cerdas yang penuh sindiran politik dan kritikan sosial--dan mempengaruhi Warkop Prambors sebelum mereka membuat film model Three’s Company.

Di  dunia film, semuanya laris manis. Tren dengan judul bintang film di depannya bermula darinya.  Bahkan, namanya pernah diabadikan sebagai piala untuk film komedi terbaik, dalam Festival Film Indonesia.

Tapi mengapa jarang ada orang yang mengingatnya? Ia seolah terlupakan oleh sejarah.  Apakah kita semacam mengidap amnesia?  Ada apa dengan memori kultural kita?

Andreas Huyssen, dalam Twilight Memories, Making Time in a Culture of Amnesia, menyatakan bahwa ada rasa krisis yang mendalam dalam gerutuan tentang betapa budaya kita begitu mengidap amnesia yang akut. “Masa lalu tidak begitu saja hadir dalam memori, tapi harus dikeluarkan untuk menjadi memori,” ungkap Huyssen. “Status temporal dari segala aksi memori selalu kiwari, dan bukan, sebagamana ada dalam beberapa epistemologi naif, di masa lalu itu sendiri, walau semua memori dalam beberapa hal tergantung pada peristiwa atau pengalaman zaman lampau,” ungkapnya.

Jose van Dijck dalam Mediated Remains in the Digital Age, menyatakan bahwa ingatan sungguh vital bagi kemanusiaan, karena tanpa memori (dalam konteks tulisan itu, memori otobiografis), kita tak kan punya sense akan masa lalu atau depan, dan akan kekurangan rasa keberlangsungan (sense of continuity). “Citra kita tentang siapa kita, secara mental dan fisik, dadasri oleh ingatan jangka panjang tentang fakta, emosi, dan pengalaman. Bahwa citra diri tak pernah stabil, tapi selalu berubah bentuk secara konstan, karena persepsi kita tentang siapa kita berubah seiring dengan proyeksi kita dan kenginan kita untuk menjadi apa”.  Van Dijck menggarisbawahi pentingnya mediated memory, sebuah memori yang tidak hanya menjadi mediasi bagi ingatan akan masa lalu, tapi juga antara para individual dan berbagai kelompok, yang dibuat oleh teknologi media. Baginya, kerja memori berhubungan dengan memproduksi obyek—seperti  snapshots dan footage video—untuk tujuan ganda: mendokumentasikan dan mengomunikasikan apa yang telah terjadi.

Karena itu, kehadiran kembali lagu Genjer-Genjer, juga  Nurlela (yang sayangnya tidak langsung dinyanyikan oleh Bing)  begitu penting. Juga lagu-lagunya yang diam-diam beredar di internet—misalnya Euis, Bintang Pujaan, Bersuka Ria,  Tudung Periuk, Serunai Malam,  dan Lenggang Mak Limah. Juga daurulang lagu-lagunya, dalam catatan Denny Sakrie, seperti  Belaian Sayang (Glen Fredly dan Dewi Sandra, Ruth Sahanaya) dan Payung Fantasi (Shelomita dan  Opustre)  Sayang sekali, VCD dari film-filmnya hanya tinggal satu dua judul yang tersisa, padahal 5 tahun lalu masih ada beberapa.

Kasus Bing Slamet adalah satu dari begitu banyak pekerjaan rumah tentang amnesia, penghargaan, dan pelajaran untuk merencanakan masa depan. Masih banyak tokoh lain yang kurang mendapatkan perhatian yang layak.

Tiba-tiba saya teringat saat mewawancarai Idris Sardi, pada 2004. Katanya: "Semua penyanyi pria sekarang kayak bencong! Gak ada yang suaranya bariton kayak Bing Slamet".

Ah Bing Slamet.Mengapa saya  menemukan dua buku biografimu (Bing Slamet, Hasil Karya dan Pengabdiannya oleh drs Sutrisno; dan Album Kenangan Bing Slamet oleh Sumohadi Marsis) justru jauh di Leiden? [Ekky Imanjaya] - Artikel pernah dimuat di majalah d'maestro maret 2008
baca berita di lintas berita
DISKOGRAFI
Data belum ada ..
EVENTS
Tidak ada event minggu ini
Penyanyi / Band Berawalan Huruf B
Pilih Penyanyi / Band Lain Berdasarkan Abjad
ABCDEFGHIJKLMNOPQRSTUVWY